muwahid al fauzan. Diberdayakan oleh Blogger.

MENANGIS (Meretas Galau)

Sabtu, 29 Maret 2014



     Menagis merupakan suatu bentuk luapan emosi di dalam diri manusia ketika ia mengalami kegalauan atau musibah. Hal ini merupakan keadaan dimana hati mengeluarkan apa yang ia rasakan. Dengan rangsangan tersebut maka air mata akan keluar. Biasanya kondisi menagis adalah puncak dari rasa galau yang ia miliki.

     Sebagaimana Rasullullah mengeluarkan air matanya, bukan karena meratapi ataupun tidak menerima ketetapan Allah tetapi rasullullah menagis karena rasa kasih sayang yang ada pada diri Beliau. Sungguh Allah mengasihi hamba hamba-Nya yang memiliki sifat penyayang. Hadits berikut menggambarkan bagaimana rasulullah menagis karena kasih sayangnya kepada anak dari putri beliau.

Hadis riwayat Usamah bin Zaid ra., ia berkata:

Kami sedang berada di dekat Rasulullah saw. ketika seorang di antara putri beliau menyuruh seseorang memanggil beliau dan memberi kabar bahwa anak putri beliau itu sedang menghadapi maut, Rasulullah saw. bersabda kepada utusan tersebut: Kembalilah dan kabarkan kepadanya bahwa apa yang Allah ambil dan Allah berikan adalah milik-Nya semata. Segala sesuatu di sisi-Nya adalah dengan batas waktu tertentu. Suruhlah ia untuk bersabar dan mengharap pahala. Utusan itu kembali dan berkata: Dia berjanji akan memenuhi pesan-pesan itu. Lalu Nabi saw. berdiri diikuti oleh Saad bin Ubadah dan Muadz bin Jabal. Aku pun (Usamah bin Zaid) ikut berangkat bersama mereka. Kepada Rasulullah saw. anak (dari putri beliau) diserahkan dan jiwanya bergolak seperti berada dalam qirbah (tempat air) tua. Kedua mata Rasulullah saw. menitikkan air mata. Lalu Saad bertanya: Apa arti air mata itu, ya Rasulullah? Rasulullah saw. bersabda: Ini adalah rahmat (kasih sayang) yang diletakkan Allah dalam hati para hamba-Nya. Sesungguhnya Allah mengasihi para hamba-Nya yang pengasih. (Shahih Muslim No.1531)
    
    Akan tetapi di dalam meneteskan air mata (menangis)  Rasullulah melarang kepada umatnya untuk berteriak teriak, meronta ronta, merobek pakaian, ataupun meratapi musibah yang dialami. Hal ini sebagaimana di dalam sabda beliau :



Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

“Tidak termasuk golongan kami orang yang menampar pipi, yang merobek-robek pakaian dan yang menyeru dengan seruan jahiliyah” (HR Al Bukhari, Fathul Bari : 3/163).

      Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melaknat orang yang suka melakukan ratapan berlebihan kepada mayit.

Abu Umamah Radhiallahu’anhu meriwayatkan :

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam melaknat wanita yang mencakar mukanya, merobek-robek bajunya, serta yang berteriak dan berkata : ‘celaka dan binasalah aku” (HR Ibnu Majah : 1/505, Shahihul Jami’ : 5068)

Abu Burdah bin Abi Musa berkata, "Abu Musa sakit keras, lalu ia pingsan. Kepalanya di pangkuan seorang wanita keluarganya, maka ia tidak dapat menolak sesuatu pun tehadap wanita itu. Ketika telah sadar, ia berkata, 'Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah berlepas diri darinya. Sesungguhnya Rasulullah berlepas diri dari orang yang berteriak-teriak ketika tertimpa musibah, orang yang mencukur rambutnya ketika tertimpa musibah, dan orang yang merobek-robek pakaiannya ketika tertimpa musibah." (Hadits ini diiiwayatkan oleh Imam Bukhari secara mu'allaq, tetapi di-mausuhul-kan oleh Muslim dan Abu Ya'la)

Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata

Ketika berita gugurnya Ibnu Haritsah, Jakfar bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawahah sampai kepada Rasulullah saw., Rasulullah saw. pun duduk bersedih hati. Ia (Aisyah) berkata: Aku melihat dari celah pintu. Lalu datang seseorang mengabarkan kepada Rasulullah saw., katanya: Wahai Rasulullah saw., sungguh istri-istri Jakfar! Orang itu menceritakan tangis istri-istri Jakfar. Mendengar itu Rasulullah saw. menyuruh orang tersebut untuk melarangnya. Dia pun pergi, lalu kembali lagi, menuturkan bahwa istri-istrinya tidak mau menurut. Rasulullah saw. menyuruhnya lagi agar melarang istri-istri Jakfar meratap. Dia pun pergi menuju istri-istri Jakfar lalu kembali lagi kepada Rasulullah saw. sambil berkata: Demi Allah, mereka keras kepala, wahai Rasulullah. Aisyah menyangka bahwa Rasulullah saw. bersabda: Pergilah dan jejalkanlah debu tanah ke mulut mereka! Aisyah berkata: Aku berkata: Mudah-mudahan Allah menghinakanmu! Engkau tidak melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. dan engkau tidak mau meninggalkan Rasulullah saw. bebas dari beban. (Shahih Muslim No.1551)


Hadis riwayat Ummu Athiyyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. mengambil janji kami saat baiat, yaitu agar kami tidak meratapi mayit. Tidak ada di antara kami yang menepati baiat itu kecuali lima orang wanita; Ummu Sulaim, Ummul `Ala, putri Abu Sabrah (istri Muaz) atau putri Abu Sabrah dan istri Muaz. (Shahih Muslim No.1552)

   
  Dalam pembagianya menagis itu memiliki 2 sisi :

  1. Menangis dikarenakan perkara dunia yang ia hadapi (musibah ).
      Menagis karena perkara dunia ini disebabkan oleh ujian yang Allah berikan kepadanya, berupa rasa takut, kekurangan buah buahan, kekurangan nyawa (kematian). Sebagaimana firman Allah berikut ini.


Surat Al Baqarah ayat ke 155

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
    
       Seberapa besarnya cobaan yang ia hadapi dan juga kemampuan dirinya dalam menghadapi musibah tersebut, merupakan suatu tolak ukur seseorang itu kuat atau lemahnya ia dalam menghadapi musibah/ rasa galau yang menimpanya. Maka hendaknya tiap tiap dari manusia untuk bertakwa kepada Allah dan mengikuti bagaimana contoh yang telah rasullullah ajarkan kepada manusia dalam menghadapi musibah yang menimpanya.
     
      Besarnya cobaan yang ia hadapi sehingga sesak serta sempit hatinya, merupakan penyebab seseorang dapat menangis, namun hal tersebut dapat dihalagi oleh sikap dan kemampuan dalam menghadapi kegalauan itu sendiri sehingga ia mampu mengendalikan air   mata yang mengalir keluar dari sela sela matanya.
      
       Penjelasan sebelumnya termasuk ke dalam menagis karena perkara dunia (ujian/musibah).




2. Menagis karena Allah Azza Wajalla


    Menangis karena rasa harap (dimasukan kedalam surge dan dikabulkanya doa), rasa cinta, dan rasa takut (akan azab Allah dan tidak dikabulkanya amalan serta doa) merupakan tangisan yang dipuji oleh Allah Azza Wajallah. Sebagai mana para alim ulama terdahulu, yang mereka menagis karena rasa takut dan kecintaan mereka kepada Allah Ar-Rahman. Berikut beberapa firman Allah yang menyatakan hal ini.


Surat As Sajdah Ayat ke 16

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[1] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan”.

[1]. Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.



Surat Maryam ayat ke 58

"Apabila dibacakan ayat-ayat Ar Rahman (Dzat yang Maha Pemurah) kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan sujud dan menangis."


Surat Al A'raaf ayat ke 56

“ Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”




Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:


"Andai seseorang menangis pada sekumpulan manusia karena takut kepada Allah, niscaya mereka dirahmati semuanya."
"Tidak ada satu amalanpun kecuali ada timbangannya yang jelas kecuali menangis karena takut kepada Allah. Allah tidak membatasi sedikitpun nilai dari setiap tetes air matanya."
Dan beliau juga berkata: "Tidaklah seseorang menangis kecuali hatinya menjadi saksi akan kebenaran atau kedustaan dia."

(Mawa'izh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, halaman 109)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Jadwal Kajian Salafy Kota Bengkulu

Tempat :Mushola Shelter Universiras Bengkulu (UNIB) waktu :Setiap Sabtu Ba'da Magrib s/d Isya Pembahasan : Kitab Aqidah Thawiyah . . . . . . Tempat :Mesjid SMPN 18 Kota Bengkulu waktu :Setiap Senen Ba'da Magrib s/d Isya Pembahasan :Tafsir Alqu'an . . . . . . . Tempat :Masjid Al-Ikhlas dekat SMAN 07 Kota Bengkulu waktu :Setiap Sabtu Ba'da Magrib s/d Isya Pembahasan :Fiqih Muyasar

Blogroll

Most Reading